Ibadah Sosial
Kamis, 11 September 2008 14:38
Jika hingga detik ini masih ada kejadian seperti di bawah ini;
Masih suka ribut sama isteri atau suami, dengan tetangga tidak akur, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, merasa diri lebih baik dari orang lain, tidak peka terhadap penderitaan saudaranya, mudah terpancing emosi, bahkan tidak mau memaafkan orang lain, dan berbagai persoalan sosial lainnya dalam kehidupan berumah tangga serta bermasyarakat, hati-hati dengan ibadah kita!
Padahal sholat wajib tak bolong, masih ditambah beragam sholat sunnah seperti dhuha, tahajjud, termasuk sholat sunnah rawatib. Tidak cukup hanya menjalankan puasa di bulan ramadhan, di bulan lain pun kita tetap berpuasa, senin kamis, atau lainnya. Zakat rutin tiap tahun dikeluarkan, ditambah infak dan sedekah. Kita pun sudah pernah ke tanah suci, bahkan berkali-kali.
Pertanyaannya, benarkah seluruh ibadah hanya berorientasi vertikal? Hanya untuk Allah semata? Bukankah ada dimensi horizontal –baca: sosial- dari setiap ibadah yang kita kerjakan setiap hari?
Sholat misalnya, betul kita tengah menghadap Allah. Tetapi ketika sholat, baik sendiri maupun berjamaah, banyak sekali dimensi sosial yang berlaku sepanjang sholat berlangsung. Mulai dari hikmah ketaatan dan loyalitas kepada pemimpin (imam), tidak satupun yang berhak mendahului gerakan imam sholat. Tidak ada gerakan khusus yang dibedakan sesuai jabatan di kantor atau struktur pemerintahan, semuanya seragam dan serempak.
Kesejajaran dan kesetaraan dalam barisan (shaf), hak yang sama dalam menempati shaf, lantaran tidak serta merta ketua RT, RW, kepala desa atau pemimpin negara harus mendapat tempat di shaf paling depan. Status sosial jelas tidak berlaku pada saat sholat.
Betul memang ketika sholat kita tengah berhadapan dengan Allah, tetapi disaat yang sama pun kita berdampingan dengan orang lain yang berdiri sejajar, saling bersentuhan bahu, merapatkan ujung-ujung jari dengan sebelah kanan dan kiri. Maksudnya jelas, orang-orang yang menegakkan sholat pun semestinya tetap dekat, rapat dan hangat dengan tetangganya, termasuk yang tak dikenal sekalipun.
Ketika mengucap salam, kalimat “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuhu” sambil menengok ke kanan dan kiri. Buatlah orang lain merasa aman dan nyaman berdekatan dengan kita, tengoklah tetangga kanan dan kiri serta lingkungan sekitar untuk tetap menyambung silaturahim. Tengok pula, apakah ada tetangga, saudara, kerabat dan sahabat yang sakit atau memerlukan bantuan.
Berpuasa pun demikian. Kita merasakan lapar mulai waktu shubuh sampai adzan maghrib. Agar tahu penderitaan saudara-saudara yang berpuasa sepanjang tahun, tak hanya di bulan ramadhan. Tak cukup hanya merasakan, tentu saja ada wujud kepedulian terhadap sesama, berbagi nikmat ramadhan saat berbuka maupun sahur. Egois rasanya kalau berpuasa tapi tak peduli keadaan dan lingkungan.
Saling hantar makanan pun menjadi tradisi di bulan ramadhan, ini tak hanya sekadar wujud syukur nikmat, melainkan bentuk silaturahim antar tetangga. Jika perlu, perluas area hantar makanan ke rumah-rumah yang lebih memerlukan. Di rumah-rumah yang belum tentu selalu tersedia panganan berbuka setiap hari.
Zakat, sebaiknya tidak hanya di akhir ramadhan. Karena sesungguhnya dari setiap harta yang kita dapatkan dan miliki ada hak kaum dhuafa. Karena kita mendapatkan rezeki dari Allah setiap hari – setidaknya setiap bulan- maka sewajarnya zakat pun tidak hanya di bulan ramadhan saja. Bagus pula bila ditambah dengan infak dan sedekah, boleh jadi ini yang membuat rezeki terus mengalir.
Ada baiknya, zakat, infak dan sedekah kita berikan kepada yang terdekat, ia boleh tetangga yang memerlukan, orangtua, keluarga dekat, atau kerabat. Seringkali kita mengeluarkan infak untuk yang jauh, sedangkan tetangga sendiri terabaikan.
Sedangkan berhaji, dimensi sosial sangat kentara dari pakaian yang dipakai oleh seluruh jamaah. Bentuknya sama, warnanya pun sama, tak peduli yang mengenakannya seorang selebritis, pejabat, ulama, pemimpin Negara atau tukang bakso. Siapapun yang pernah berhaji, semestinya tidak sombong, tidak merasa lebih baik dari siapapun, sebab nilai yang berlaku di hadapan Allah kelak pun cuma ketakwaan, bukan yang lain.
Andai sepulang haji kemudian tersinggung hanya gara-gara seseorang tak menyebut titel haji, sayang sekali puluhan juta uang yang sudah dikeluarkannya. Seandainya titel haji justru membuat seseorang merasa lebih baik, lebih hebat, lebih bertaqwa dari yang lainnya, seluruh penghuni langit mungkin akan bersedih. Karena seharusnya, ia semakin rendah hati, lebih memahami bahwa nilai diri seseorang bukan ditentukan oleh status sosial, melainkan peran dan manfaatnya untuk orang lain.
Lalu, ibadah mana yang pantas saya persembahkan di hadapan Mu kelak ya Rabb? (gaw)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar